Senin, 30 November 2015

Kebahagiaan Didapat dari Memberi, Bukan Mengambil


Kata Jalaluddin Rakhmat, penulis buku Tafsir Kebahagiaaan, ada sekelompok manusia yang meletakkan kebahagiaan pada apa yang dimiliki. Sesuatu menjadi menyenangkan ketika sesuatu itu miliknya, bukan karena sesuatu itu bermanfaat baginya.

Seseorang membangun rumah besar lebih dari yang diperlukan. Seseorang membangun kolam renang di tengah-tengah rumah, meski lebih praktis dan lebih murah menyewa kolam renang umum. Atau seseorang mengeluarkan sejumlah uang untuk membuat taman, meski ia bisa berjalan-jalan di taman kompleks perumahannya tanpa harus mengeluarkan uang. Kesenangan hidup orang ini, bukan karena tidur nyenyak menempati rumah yang sudah dimiliki, tapi dari pernyataan “rumah ini milikku”.

Menurut Sigmund Freud, gaya hidup “mempunyai” sejenis itu merupakan kepribadian yang patologis. Kepribadian jenis ini terjadi karena orang tidak berhasil mencapai kedewasaan penuh. Mengira bahwa harta atau apa saja yang dimiliki dapat memuaskannya secara abadi.

Bagaimana seseorang kemudian, bergantung pada apa yang dimilikinya. Jati diri, kehormatan, kebahagiaan, hingga seluruh hidup, ditentukan dari apa yang dipunyai. Akhirnya, ketika seseorang ini kehilangan apa yang dimilikinya, maka hilang pula sebagian dari hidupnya. Ketika jabatan hilang, gairah hidup juga lenyap. Ketika mobil tergores, yang terluka malah hati. Meletakkan kebendaan dan hal-hal material jauh di dalam hatinya.

Modus hidup demikian, menurut Erich Fromm, disebut sebagai modus “mempunyai” (having mode). Namun demikian, menurut Fromm, modus ini memiliki sisi kontras, yakni modus “menjadi” (being mode). Modus “menjadi” adalah modus hidup yang sehat. Dengan hidup bermoduskan “menjadi” bukan “memiliki”, kebahagiaan akan diperoleh dari “memberi” bukannya “mengambil”. Lanjut Fromm, jika hendak hidup sehat, kita harus menghentikan upaya mencari ketenteraman dan jati diri dengan bersandar dari apa yang dimiliki.

Untuk “menjadi”, masih menurut Fromm, kita harus mengeluarkan segala ego, segala sikap “kepunyaanku”. Orang-orang bijak menyebut hal ini sebagai sebuah sikap “fakir”. Kefakiran di sini bukan tidak mempunyai apa pun, melainkan tidak dalam kepunyaan apa pun. Kefakiran diukur dari sikap, bukan dari jumlah harta.

Kefakiran, kata Ibrahim Ibn Fatik─seorang pemikir dari Baghdad, ditandai dengan ketenangan ketika tidak ada, dan pemberian dan pengorbanan ketika ada. Fakir berasal dari modus “menjadi” yang ditandai dengan ketulusan memberi, berbagi, dan berkorban. Bahkan kepada pihak yang tidak dikenal sekali pun.

Ya, perasaan tidak memiliki apa-apa bukankah memang akan menjadikan manusia menjadi legowo jika pada akhirnya akan kehilangan? Dan bukankah memang, bagi kita yang bertuhan, kita sejatinya tidak memiliki apa-apa?

Pernah Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam bercerita tentang kisah keteladanan si Fulan yang amat dekat dengan Tuhan. Beberapa sahabat bertanya, apa gerangan yang dilakukan si Fulan hingga mendapat kedudukan demikian. Jawab Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam, derajat tinggi itu diperoleh dari dua hal, salah satunya adalah karena kedermawanannya, yang lainnya karena ketulusannya.

***

Dalam dua hari pada tengah Nopember kemarin, tepat di lantai 18 Hotel Aston Makassar, orang-orang dari Timur yang tengah menjalani proses ‘menjadi’-nya berkumpul. Mereka orang-orang kampung yang lebih senang bekerja daripada tinggal mengeluh, tulis Daeng Gassing di blog pribadinya perihal kegiatan ini. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan ketulusan untuk banyak orang.

Beberapa di antara mereka, ada yang menggarap ide untuk menetapkan wilayah bank ikan yang bebas dari pengeboman di Wakatobi, ada juga pasangan suami istri yang berinisiatif mempersiapkan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat desa yang hidup di sekitar Rinjani yang rawan bencana, ada juga seorang laki-laki paruh baya dari Bulukumba yang menginisiasi gerakan bertani tanpa bahan kimiawi, dan jauh dari Sorong sana, ada sekelompok anak-anak yang tanpa pamrih mendorong perahu ke lautan mengunjungi anak-anak di Raja Ampat untuk mengajarkan mereka ekosistem pantai dan laut.


Kepada merekalah kita patut belajar tentang keteladanan, sebagaimana Andy F Noya menyebut mereka sebagai pahlawan dalam senyap, pahlawan yang tak tersorot lampu.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 27 Nopember 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar